Di Sumatera Utara, terutama di Medan, panggilan “Ketua” bukan sekadar sapaan akrab, melainkan bagian dari budaya sosial yang unik. Ia seperti sambal teri Medan yang pedas, khas, dan selalu dirindukan. Di kota ini, memanggil seseorang dengan sebutan Ketua bukan hanya basa-basi. Itu bentuk penghormatan, cara menjaga hubungan baik, dan strategi sosial agar hidup tetap aman tenteram di tengah hiruk-pikuk urban. Sebab siapa tahu, orang yang kita sapa hari ini bisa jadi yang menyapa balik esok hari di warung kopi sambil menyodorkan salam hangat khas Medan: “Lempol, Ketua!”
Dalam percakapan sehari-hari, sapaan ini muncul lebih cepat dari koneksi Wi-Fi. Pedagang sayur di pasar bisa saja berkata, “Ketua, timun sekilo, ya. Bonus cabai rawit jangan lupa.” Lucunya, tidak perlu jabatan resmi untuk disapa begitu. Cukup punya aura percaya diri, gaya jalan sedikit miring ke kiri kanan, dan senyum yang tegas, maka sapaan itu otomatis melekat. Di titik ini, “Ketua” bukan hanya gelar, tapi ekspresi penghormatan sekaligus humor. Di Medan, satu kata ini bisa menyejukkan suasana lebih ampuh daripada semboyan “Ini Medan, Bung!”
Jika ditelusuri, sebutan Ketua punya akar sosial yang panjang. Dalam masyarakat Batak, struktur kepemimpinan dan rasa hormat sudah menjadi bagian budaya. Namun, seiring waktu, sebutan itu menjalar keluar konteks formal dan berubah menjadi bahasa pergaulan yang cair. Dari masa para tokoh berwibawa seperti T.D. Pardede seorang pengusaha besar yang berpengaruh pada ekonomi Medan hingga figur karismatik Olo Panggabean yang dikenal karena kepemimpinannya di kalangan pemuda, istilah Ketua menjadi lambang kharisma dan pengaruh sosial. Kini, sebutan itu tidak lagi terbatas pada ruang rapat atau panggung politik, tapi juga bergaung di warung kopi, grup WhatsApp, bahkan kolom komentar media sosial yakni “Siap Ketua, mantap kali pendapatmu!”
Sosiolog Indonesia, Prof. Selo Soemardjan, pernah mengatakan bahwa pemimpin hadir ketika mampu memengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya. Nah, di Medan, “Ketua” adalah representasi lokal dari gagasan itu. Ia bukan semata-mata jabatan, melainkan simbol kepemimpinan yang diakui lewat sikap dan relasi sosial. Kadang cukup dengan kemampuan menenangkan suasana, menengahi perdebatan, atau sekadar mentraktir kopi tongkrongan, seseorang sudah layak disebut Ketua versi Medan.
Namun di balik kelucuannya, fenomena ini menyimpan dinamika sosial yang menarik. Sapaan “Ketua” bisa menjadi alat diplomasi. Dalam kota yang ritmenya cepat dan suasananya keras, menyapa orang dengan hormat dapat mencegah konflik. Tidak heran jika sebagian warga memilih memanggil semua orang dengan sebutan itu. Aman, santun, dan terasa akrab. Tapi ada juga sisi lain yang perlu disadari yakni munculnya “ketua-ketuaan”, yakni kecenderungan orang merasa perlu tampil berwibawa meski jabatannya hanya ketua grup keluarga di WhatsApp. Ini bukti bahwa simbol sosial bisa berubah jadi gaya hidup yang performatif.
Sosiolog Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa status sosial tidak selalu ditentukan oleh posisi formal, tetapi juga oleh pengakuan dan simbol budaya. Dalam konteks Sumatera Utara, “Ketua” adalah simbol itu. Ia mencerminkan kebutuhan akan legitimasi sosial dan rasa dihormati. Dalam masyarakat yang dinamis, simbol seperti ini menjadi alat adaptasi yang efektif. Bukan hanya penanda status, tapi juga sarana menjaga harmoni sosial. Menariknya, meski lahir dari humor dan spontanitas, panggilan “Ketua” berhasil menciptakan rasa setara di tengah keberagaman kelas dan profesi.
Dampak positifnya jelas terasa. Rasa persaudaraan meningkat, komunikasi lebih cair, dan ego tersalurkan dengan cara yang lucu. Di warung kopi, semua orang bisa merasa penting. Setiap percakapan dibuka dengan “Ketua, gimana pendapatmu?” dan ditutup dengan tawa hangat. Fenomena ini menunjukkan bahwa humor adalah bagian penting dari kearifan sosial masyarakat Medan dan cara mereka menertawakan kerasnya hidup sambil tetap menjaga rasa hormat.
Namun, budaya ini tetap perlu disikapi dengan bijak. Jangan sampai sapaan “Ketua” hanya berhenti pada simbol kosong. Pemimpin sejati bukan diukur dari siapa yang paling sering dipanggil Ketua, melainkan siapa yang benar-benar membawa manfaat bagi lingkungannya. Di era digital sekarang, di mana semua orang bisa jadi “Ketua” di ruang maya, nilai-nilai kepemimpinan seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab tetap harus menjadi isi dari gelar itu.
Pada akhirnya, sapaan “Ketua” adalah cermin kehangatan khas Medan: keras di luar, lembut di dalam. Ia lahir dari kebutuhan akan penghormatan dan kebersamaan, tapi dibungkus dalam humor dan solidaritas. Dunia boleh berubah cepat, tapi gaya orang Medan tetap sama yaitu penuh wibawa, sedikit canda, dan selalu siap bilang, “Gas, Ketua!” Karena di Medan, menjadi Ketua bukan soal jabatan melainkan soal hati yang bisa menghormati dan membuat orang lain tertawa bersama.
Tentang Penulis
Aswan Nasution, lahir dan saat ini di Serbelawan Ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Aktif menulis opini, esai budaya, dan artikel reflektif tentang kehidupan sosial masyarakat.
Tulisannya berfokus pada isu Hukum, Budaya, Cerita lokal, dan perubahan sosial di Indonesia.
Apabila ingin menghubunginya bisa melalui No Whatshaapnya 083163237234 atau emailnya : aswannasution09@gmail.com









